Selasa, 16 September 2014

Kesabaran dan ketenangan



                          
     Di rumah atau di lingkungan keluarga sering kiita  mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, baik itu datangnya dari tingkah laku kakak kita ataupun adik kita. Di ssekolah juga demikian, sering kita mengalami hal-hal yang tidak kita sukai dari teman. Di lingkungan masyarakat tak lepas juga dari hal-hal yang tidak menyenangkan, datangnya sudah tentu dari para tetangga kita. Hal-hal yang tidak menyenangkan itu misalnya berupa ejekan, cemohan, tuduhan, ancaman, mungkin juga tindakan kekerasan. Itu semua sebaiknya  kita hadapi dengan sabar dan ketenagan. Dengan kesabaran dan ketenangan, insya-Allah pergaulan kita baik di dalam keluarga, sekkolah dan di masyarakat akan senantiasa terpelihara dengan baik. Sebagaimana tercantum dalam sabda Rasulullah di bawah ini :
“sesungguhnya engkau mempunyai dua tabi’at dan kelakuan yang disukai oleh Allah, yaitu sabar dan ketenangan.”(HR. Muslim)

          Dalam kehidupan sehari-hari kejadian yang kita alami adakalanya menyenangkan, adakalanya juga menyusahkan. Seringkali kita merencanakan sesuatu, tetapi ada saja hambatan yang menyebabkan kita tidak melaksanakan rencana tersebut. Dalam keadaan demikian kita

Jangan bersedih








Jangan bersedih, karena anda telah melalui kesedihan itu kemarin dan tidak member manfaat apapun. Ketika anda gagal dalam ujian dan anda bersedih karenanya, apakah kemudian anda lulus kakrena kesedihan itu? Saat bapak anda meninggal dan anda bersedih, apakah ia akan hidup kembali?

Jangan bersedih, sebab bilal anda bersedih gara-gara satu musibah, maka musibah yang satu itu akan menjadi berlipat ganda. Ketika anda bersedih karena kemiskinan atau kesengsaraan yang anda alami, bukankah kesedihan itu akan menambah kesusahan anda saja? Saat anda bersedih karena cercaan musuh-musuh anda, pastilah kesedihan itu hanya akan  menguntungkan dan menambah semangat mereka untuk menyerang anda. Atau, ketika anda mencemaskan terjadinya sesuatu yang tidak anda sukai, ia akan mudah terjadi pada anda.

Jangan bersedih,  karena kesedihan itu akan membuat rumah yang luas, harta yang melimpah, wajah yang rupawan, otak-otak yang cerdas tidak ada gunanya sedikitpun.

Jangan bersedih, karena kesedihan itu hanyay akan membuat air yang segar terasa pahit, dan sekuntum bunga mawar yang indah tampak seperti sebongkah labu, taman yang rimbun tampak seperti gurun pasir yang gersang, dan kehidupan dunia menjadi penjara yang pengap.


Jangan bersedih, karena anda masih memiliki dua mata, dua telinga, dua bibir, dua tangan dan dua kaki, lidah dan hati. Anda masih memiliiki kedamaian, keamanan, dan kesehatan.

“Maka nikmat Rabb kamu manakah yang kamu dustakan.”(QS. Ar-Rahman:13)

Jangan bersedih, karena anda masih memiliki agama yang anda yakini, rumah yang anda diami, nasi yang anda makan, air yang anda minum, pakaian yang anda pakai, orang tua atau sahabat tempat anda berbagi rasa. Mengapa harus bersedih????
 

 

Dapatkan ketenangan dengan Doa






         Doa merupakan cita-cita, visualisasi harapan yang jelas dan konkret, ada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang bias dijadikan pegangan untuk merancang stategi dan tindakan yang tepat agar tujuan tersebut bisa dicapai. Dengan demikian kita dapat berdoa memohan diberikan ketenangan hidup, kedamaian hati, dan ketentraman jiwa.
“Doa itu senjata orang mukmin, tiangnya agama, dan cahayanya langit dan bumi.” (HR. Abu Ya’la dan Hakim”)
Ada 6 hal agar doa kita diijabah oleh Allah SWT, berikut ke-6 hakl itu:
1.      Badan dan apa yang digunakan atau dikonsumsi bersih dari kotoran secara lahir maupun batin, waktu yang mustajab, bacaan doa yang ikhlas.
2.      Didahului dengan membaca basmallah, menyebut nama Allah SWT, bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan penuh ketenangan.
3.      Berkenaan dengan sikap mental, yang dibangun adalah keyakinan yang kuat.
4.      Selain keyakiinan, sikap yang harus dibangun adalah tenang(khusyuk), penuh konsentrasi, dan sabar dalam menanti terkabulnya doa.
5.      Doa lebih utama dilakukan dengan posisi badan yang menghadap kiblat, waktu  mustajab, dan tempat yang bersih.
6.      Konsistensi ucapan dan tindakan. Ada kesesuaian perbuatan dengan ucapan.
Suatu kali, Ibrahim bin Adam menerima keluhan seseorang yang berdoa dan berdzikir selama puluhan tahun, tetapi belum dikabulkan oleh Allah SWT. Maka, dia memberitahukan beberapa penyebabnya, yaitu karena:

Buatlah jiwa selalu bahagia dengan tersenyum




Buatlah jiwa selalu bahagia dengan tersenyum
            Tertawa yang wajar itu laksana “balsem” bagi kegalauan dan “salep” bagi kesedihan.  Pengaruhnya sangat kuat sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati bahagia. Bahkan, karena itu Abu Darda’ sempat berkata,”Sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku. Dan Rasulullah Saw sendiri sesekali tertawa hingga tampak gerahamnya. Begitulah tertawanya orang-orang yang berakal dan mengerti tentang penyakit jiwa serta pengobatannya”.
            Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita. Namun, yang demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan sebagaimana dikatakan dalam pepatah, “Janganlah engkau banyak tertawa, sebab banyak tertawa, itu mematikan hati.” Yakni, tertawalah sewajarnya saja sebagaimana dikatakan juga dalam pepatah yang berbunyi,”senyummu didepan saudaramu adalah sedekah”. Bahkan,tertawalah sebagaimana  Nabi Sulaiman ketika, [. . . ia tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu]
(QS. An-Naml : 19)
            Janganlah tertawa sinis dan sombong sebagaimana dilakukan orang-orang kafir,{. .  .tatkala ia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat kami dengan serta merta mereka menertawakannya.}. . QS. Az-Zukhruf :47.
            Dan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada penghuni surga adalah tertawa. {Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.}. . QS. Al-Muthaffifin :34.
            Orang Arab senang memuji orang yang murah senyum dan selalu tampak ceria. Menurut mereka, perangai yang demikian itu merupakan pertanda kelapangan dada, kedermawanan sifat, kemurahan hati, kewibawaan perangai, dan ketanggapan pikiran.
Wajah nan berseri tanda suka memberi
Dan, tentu bersuka cita saat dipinta.
Dalam kitam” harim”, Zuher bersyair,
Kau melihatnya senantiasa gembira saat kau datang,
Seolah engkau memberinya apa yang engkau minta padanya
Pada dasarnya, Islam sendiri dibangun atas dasar prinsip-prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal aqidah, ibadah, akhlak maupun tingkah laku. Islam tak mengenal kemuraman yang menakutkan, dan tertawa lepas tak beraturan. Akan tetapi sebaliknya, Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan yang penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah.

Jumat, 12 September 2014

Cara mendapatkan ketenangan




BekasiUrbanCity.com – Setiap manusia tidak ada yang tidak mempunyai masalah hidup, terlepas dari segala aspek status maupun derajatnya. Terkadang masalah tersebut bisa membuat kita menjadi stres atau bahkan akhirnya menjadi sakit, namun jika kita pandai untuk mengelolanya dengan baik masalah tersebut justru bisa menjadi sesuatu pelajaran yang sangat berguna untuk kita.
Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, jumlah rasa pahit itu sama dan memang akan sama, tetapi pahit yang dirasakan tergantung dari wadah yang kita miliki . Kepahitan itu didasari dari perasaan tempat kita meletakan segalanya. Jadi, saat Kita merasakan kepahitan dan kegagalan hidup, cuman satu yang bisa kita lakukan, lapang dada untuk menerima semua kenyataan. luaskan hati buat nampung kepahitan itu.
“hatimu adalah wadah itu. perasaanmu adalah tempat itu. kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. jangan jadikan hati kamu kaya gelas, buat seluas telaga yang mengubah semua jadi kesegaran dan kebahagiaan.”
6 tips untuk mendapatkan ketenangan hati semoga bermanfaat :